Jumat, 30 Oktober 2009

Orientasi dalam teori Kepribadian

Ada dua orientasi utama dalam teori kepribadian. Yang pertama, teori yang berorientasi klinis. Artinya, teori atau kelompok teori yang mengutamakan studi tentang individu dengan segala kekhasannya dan berusaha memahami atau menjelaskan individu secara menyeluruh lewat penyelidikan klinis. Yang kedua, teori-teori yang lebih bersifat eksperimental dan kuantitatif. Artinya, teori-teori yang mengutamakan usaha memperoleh gambaran umum tentang kepribadian atau tingkahlaku manusia lewat penyelidikan eksperimental dengan mengandalkan metode-metode analisis kuantitatif. Yang pertama mulai dari teori Psikoanalisis Klasik Freud sampai dengan Psikologi Timur, sedangkan yang kedua mencakup teori Medan Lewin sampai dengan teori Perkuatan Operan Skinner.

Dalam merumuskan suatu teori tentang kepribadian, seorang teoritikus tentulah bertolak dari suatu pandangan falsafi tentang hakikat manusia, entah secara eksplisit ataupun implisit. Pandangan falsafi seseorang tentang hakikat manusia itu sendiri selain ditentukan oleh keyakinan pribadinya sedikit banyak pasti dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat budaya asal orang yang bersangkutan. Hampir semua teori kepribadian lahir dari budi dan tangan para tokoh yang berasal dari Eropa (Barat) dan Amerika Utara, khususnya Amerika Serikat. Teori-teori yang tumbuh dari pengalaman budaya “Barat” ini, secara agak kasar, lazim dibedakan ke dalam tiga aliran besar berdasarkan pandangan falsafi tentang manusia yang melatarbelakanginya .

Yang pertama adalah teori yang bertolak dari pengandaian bahwa manusia pada dasarnya dilahirkan jahat. Tingkah laku manusia digerakkan oleh daya-daya yang bersifat negatif atau merusak dan tidak disadari, seperti kecemasan dan agresi atau permusuhan. Maka agar berkembang ke arah yang positif manusia membutuhkan cara-cara pendampingan yang bersifat impersonal dan direktif atau mengarahkan. Contoh khas teori yang beraliran demikian adalah psikoanalisis klasik Sigmund Freud. Dalam sejarah psikologi aliran pemikiran yang agak pesimistik ini dikenal dengan sebutan Mazhab Pertama.

Yang kedua adalah teori-teori yang bertolak dari pengandaian bahwa manusia pada dasarnya dilahirkan netral, bak ‘tabula rasa’ atau kertas putih. Lingkunganlah yang akan menentukan arah perkembangan tingkahlaku manusia lewat proses belajar. Artinya, perkembangan manusia bisa dikendalikan ke arah tertentu sebagaimana ditentukan oleh pihak luar (lingkungan) dengan kiat-kiat rekayasa yang bersifat impersonal dan direktif. Contoh khas pandangan semacam ini adalah behaviorisme radikal B.F. Sinner. Dalam sejarah psikologi, aliran pemikiran yang deterministik ini disebut Mazhab Kedua.

Yang ketiga adalah teori-teori yang bertolak dari pengandaian bahwa manusia pada dasarnya dilahirkan baik. Tingkahlaku manusia dengan sadar, bebas dan bertanggung jawab dibimbing oleh daya-daya positif yang berasal dari dalam dirinya sendiri ke arah pemekaran seluruh potensi manusiawinya secara penuh. Agar berkembang ke arah yang positif, manusia tidak pertama-tama membutuhkan pengarahan melainkan sekedar suasana dan pendampingan personal serba penuh penerimaan dan penghargaan demi mekarnya potensi positif yang melekat dalam cirinya. Contoh khas pendirian teoritis semacam ini adalah teori humanistik Abraham Maslow dan Carl Rogers. Dalam sejarah  psikologi, aliran pemikiran yang optimistik ini disebut Mazhab Ketiga.

Tentu, masing-masing filsafat tersebut memiliki implikasi yang berlainan dalam praktik pendekatan di berbagai bidang kehidupan sehari-hari seperti psikoterapi dan pendidikan.

Karena teori-teori ini berasal dari masyarakat budaya “Barat” yang diyakini, sedikit atau banyak, sebagai berbeda dari masyarakat budaya “Timur”, ada kemungkinan bahwa asumsi-asumsi dan konsep-konsep yang dikemukakan oleh teori-teori itu terasa asing bagi kita. Terdapat kesangsian bahkan bukti-bukti bahwa model-model, konsep-konsep, dan metode-metode di bidang ilmu-ilmu sosial pada umumnya dan di bidang psikologi khususnya yang berasal dari “Barat” tak bisa diterapkan dalam konsteks masyarakat budaya. Kesadaran ini selain menjadikan kita kritis dalam menggunakan pengandaian-pengandaian, model-model, dan konsep-konsep yang dikemukakan oleh berbagai teori, sekaligus membuka kesempatan untuk menguji  tidaklah terdapat kebenaran yang universal atau bebas dari pengaruh budaya setempat , sehingga teori-teori itu sungguh-sungguh bisa membantu memahami dan menjelaskan kepribadian atau tingkahlaku kita.

Sebagaimana diketahui, sejak dekade enampuluhan banyak bermunculan jenis teori kepribadian baru di bidang psikologi di Amerika Utara yang dikenal dengan sebutan teori mini. Tidak seperti teori global, jenis teori ini memiliki lingkup pembahasan yang relatif sempit atau berskala kecil, misal tentang atribusi, locus of control, dan sebagainya. Teori-teori mini ini biasanya diturunkan dari suatu teori global tertentu. Kecenderungan mengembangkan teori kepribadian berskala terbatas ini dipelopori oleh para psikolog sosial.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar